SULSEL.INFO, SENGKANG - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Wajo 2018 mulai ditabuh. Sejumlah nama bakal calon mulai mencuat ke permukaan. Di antaranya Wakil Bupati Wajo, Andi Syahrir Kube Daude, mantan Wakil Bupati Wajo Amran Mahmud, Camat Tempe Andi Syahrial Makkuradde, mantan Direktur BUMD Wajo Andi Thamrin, dan menantu Bupati Wajo yang juga Kepala Dinas Kesehatan Wajo, dr Baso Rahmanuddin Makkaraka.
Selain itu, salah satu nama yang mencuat layak maju di bursa bakal calon Bupati Wajo pada Pilkada 2018 mendatang, yakni Andi Fadilah Burhanuddin Unru. Selain mewakili kaum perempuan, Fadilah juga dinilai bisa meneruskan kepemimpinan Burhanuddin Unru.
“Awalnya saya ga berniat maju dalam pemilihan bupati Wajo. Tapi yang namanya manusia biasa, siapapun itu, bisa saja punya cita-cita ingin jadi bupati, gubernur, bahkan presiden. Kemarin kan isunya menantu bupati Wajo yang bakal maju, saya sih santai-santai saja,” kata Fadilah.
Dia mengakui, niatnya maju pada Pilkada mendatang bukan atas dasar ambisi pribadi semata. Melainkan karena diminta oleh masyarakat. Menurutnya, sejumlah LSM, wartawan, dan beberapa komunitas masyarakat sangat mendorongnya untuk mencalonkan diri.
“Sempat ada beberapa teman dari wartawan, LSM, dan beberapa komunitas masyarakat mendorong saya untuk maju. Namun demikian, saya tidak langsung menerima saran itu begitu saja. Saya tetap tunggu komando dari Bupati Wajo. Kalaupun saya jadi maju, saya mau masyarakat tidak melihat saya selaku anak bupati Wajo,” lanjut lurah Siengkang ini.
Saat ditanya terkait alasan yang mendorongnya untuk maju, ketua Ikatan Alumni SMA 2 Sengkang (Ikasmada) ini mengakui terinspirasi dari beberapa tokoh di Indonesia.
“Saya tergerak untuk maju setelah Ibu Indah terpilih menjadi bupati di Luwu Utara. Jadi, saya juga mau membuktikan kalau di Wajo, perempuan juga bisa," tambahnya.
Secara terpisah, mantan Ketua Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Wajo, Andi Bau Mallarangeng, memberikan pandangannya terkait adanya pencalonan dari kalangan perempuan pada Pilkada 2018 mendatang.
“Semua bisa mencalonkan diri. Tapi semua calon harus punya modal popularitas dan elektabilitas karena saya melihat persaingan Pilkada 2018 sangat ketat. Terkhusus calon perempuan memang harus lebih kerja keras lagi karena akan berhadapan dengan aspek kemampuan, ketokohan dan budaya. Tapi kalau calon perempuan bisa memanfaatkan potensi pemilih perempuan yang lebih besar dari laki-laki, maka peluangnya akan terbuka memenangkan Pilkada,” ujarnya.
\