SULSEL.INFO. MAKASSAR - Jalil (28)
yang salah satu warga asal Makassar yang ikut tergabung dalam rombongan mantan
anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang tiba di pelabuhan di Pelabuhan
Soekarno – Hatta. Ia ternyata berperan sebagai desainer pemukiman Gafatar.
Jalil
adalah alumni Teknik Sipil Unhas berperan sebagai orang yang mendesain tata
pemukiman dan pertanian di perkampungan yang terletak di Desa Karya Jaya,
Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Meski
mengaku bukan anggota Gafatar, motivasinya untuk tinggal di Kalimatan karena
ingin mendukung program kedaulatan pangan untuk menghadapi krisis pangan
satu-dua tahun ke depan. "Kita berencana untuk itu sebenarnya,"
ujarnya di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Rabu (28/1/16).
Menurutnya,
biaya hidup di Kalimantan relatif lebih murah dibanding Sulawesi. Banyaknya
lahan yang masih tidur di Kalimantan menjadikan dia betah disana. "Jadi
kita bebas untuk mengembangkan pertanian," ucapnya. Menurutnya, selama
empat tahun banyak kegiatan yang telah dilakukan. Namun, media kurang responsif
dan mengulasnya.
"Cuma
satu dua yang meliput sehingga tidak booming seperti sekarang. Sekarang
barangnya malah sudah tidak ada, baru diangkat kembali," ujar Jalil.
Dia juga
mengakui bila beredar opini ditengah masyarakat bahwa di Kalimantan adalah
Gafatar. "Padahal Gafatar sudah tidak ada sejak 13 Agustus lewat SK
menteri itu sudah dibubarkan," tambahnya. Menurutnya, Gafatar tidak
terkoordinir secara organisasi dan pentolan Gafatar saat ini masih menjalankan
fungsi komunikasinya, baik teman maupun keluarga.
\
