SULSEL.INFO. ENREKANG - Selain terkenal dengan candu kopinya
yang sudah menembus pasar mancanegara, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan,
juga menjadi satu-satunya wilayah penghasil keju lokal yang disebut “‘dangke”.
Ini adalah makanan khas daerah tersebut, berbahan baku susu kerbau maupun sapi
yang dibekukan.
Proses penggumpalan
susu (pembentukan curd) dilakukan dengan bantuan enzim protease pun terbilang
unik, karena menggunakan daun dan buah pepaya. Secara alamiah, enzim daun dan
buah pepaya mengubah susu kerbau menjadi padat, setelah terjadi pemisahan antara
protein dan air. Hasil penggumpalan inilah yang kemudian dimasak dan dicetak
dalam tempurung kelapa yang telah dibelah menjadi dua bagian.
Dilihat sepintas,
dangke mirip dengan tahu karena teksturnya yang kenyal, namun warnanya putih
agak kekuningan. Rasanya gurih dengan aroma khas keju parmesan. Dangke aman
untuk kesehatan karena diproses tanpa bahan pengawet.
“Dangke paling enak
dimakan dengan beras ketan atau di Enrekang di sebut dengan pulu mandoti. Ada
dua titik pusat budidaya sapi yang susunya merupakan bahan baku penganan
dangke, yakni di Dusun Rante Limbong, Kecamatan Curio dan Bolang, Kecamatan
Maula,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Enrekang H
Lateng.
Dengan populasi ternak
yang mampu menghasilkan 672.000 liter susu pertahun, produksi dangke Enrekang,
mampu memenuhi permitaan konsumen yang peminatnya tersebar di Makassar,
Kalimantan, Papua, Jakarta hingga Malaysia. Dengan harga jual antara Rp 8 – 15
ribu per potongnya, peternak bisa mendapat keuntungan antara Rp 6 – 8 juta
untuk setiap ekor sapi.
“Yang unik, di wilayah
Sulawesi Selatan, dangke hanya bisa didapatkan di Kabupaten Enrekang. Dangke
yang menjadi trend mark Kabupaten Enrekang, bahkan sudah dipatenkan pemkab
Enrekang pada Direktorat Paten dan Hak Cipta Depkumham RI.”
\
